Close


August 14, 201828 Views

Wajah Baru Lingkar Nganjuk

image_pdfimage_print

Antrean truk terlihat memenuhi jalan saat memasuki lingkar Nganjuk. Cuaca yang panas serta kondisi jalan yang berdebu tak menyurutkan tekad sopir truk untuk tetap melajukan kendaraanya secara perlahan di jalan lingkar Nganjuk. Hanya satu jalur yang mengarah ke Kertosono yang digunakan truk-truk itu. Mereka harus rela berbagi lajur dengan pengendara lain yang menuju ke Nganjuk.

Hal ini terjadi lantaran adanya perbaikan yang dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) wiayah Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono. Perbaikan itu dilakukan pada KM SBY 116+100 sampai 117+600 dengan total panjang 1,5 KM.

PPK wiayah Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono Waskita Wicaksonoadi menjelaskan Jalan Lingkar Nganjuk merupakan Jalan Kabupaten yang statusnya dinaikkan menjadi Jalan Nasional pada tahun 2016 sepanjang 6,9 Km.

Kondisi jalan lingkar Nganjuk saat itu rusak berat. Pasca diserahkan menjadi jalan nasional, tepatnya tahun 2017 dilakukan penanganan berupa preservasi jalan.

“Sebelum diserahkan ke BBPJN VIII menjadi jalan nasional, pernah dalam 1 minggu ada truk terguling 10 kali. Ini karena kondisi jalan yang rusak”, imbuh Waskita.

Jalan lingkar Ngajuk merupakan penyangga Jalan Tol Nganjuk. Tahun 2018 dilakukan Preservasi jalan ruas Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono dan Pemeliharaan Jalan sepanjang 97.79 Km. Selain itu dilakukan juga Rehabilitasi Mayor Jalan Lingkar Nganjuk sepanjang 1,5 Km dan Pemeliharaan Rutin Jalan yang terkontrak dalam paket long segment.

  • PPK Ngawi - Caruban - Nganjuk - Kertosono, Waskita Wicaksonoadi,ST

Teknologi Recycling

Pekerjaan ini menggunakan semen komposit dengan aggregat kelas A pada area pekerjaan sebagai salah satu komponen perkerasaan. Sesuai perencanaan rekonstruksi jalan lingkar Nganjuk untuk lapis pekerasan menggunakan AC-WC modifikasi, AC-BC Modifikasi.

Adapun metode pekerjaan menggunakan sistem recycling yaitu dengan cara memanfaatkan kembali material lama menjadi perkerasaan baru yang jauh lebih kuat. Metode yang juga dikenal dengan “New Roads From Old” dikenal lebih ekonomis serta ramah lingkungan sehingga cocok diaplikasikan untuk rekonstruksi jalan di tanah air.

Adapun keuntungan dari penerapan teknologi recycling, antara lain: mampu memanfaatkan seoptimal mungkin material perkerasan lama sehingga tidak dibutuhkan material baru dalam jumlah banyak, ramah lingkungan, mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh transportasi material buangan maupun material baru, menghindari gangguan lalulintas akibat transportasi buangan dan material baru, kecepatan konstruksi yang lebih tinggi, trafficability & traffic management dan lebih kompetitif dalam hal biaya.

Dalam aplikasinya, teknologi recycling yang diterapkan dalam preservasi dan rehabilitasi kerusakan jalan yang terjadi saat ini, ternyata cukup menghemat, baik dari segi biaya maupun ‘kebenaran teknis’. Penerapan teknologi ini, juga dapat menghemat penggunaan material, lebih ramah lingkungan dan secara teknis hasilnya cukup baik, sehingga dapat dikembangkan untuk perbaikan ruas-ruas jalan lainnya

Sejak dipergunakan sebagai jalur lalu lintas, jalan akan akan mulai mengalami proses kerusakan, baik secara perlahan maupun progresif. Kerusakan yang sering terjadi, antara lain: fatigue, rutting, permanent deformation, serta kerusakan perkerasan permukaan (surface defects), seperti retak (cracking), perubahan bentuk (distortion), cacat permukaan (disintegration), pengausan (skid hazards) dan lainnya.

Dalam paket tersebut juga memuat kegiatan Padat Karya berupa Pengendalian tanaman pada bahu jalan pada saat ini telah berjalan selama 4 bulan. Dalam program pengendalian tanaman melalui padat karya biasanya dalam 1 (satu) grup terdapat 5–10 orang.

“Kendala yang dihadapi biasanya kesulitan mencari pekerja. Terutama pada wilayah antara Nganjuk dan Caruban yang merupakan daerah pertanian karena pada saat musim panen pendapatan menjadi buruh tani lebih tinggi. Meski pada program padat karya dibayarkan sesuai UMR. Atau di daerah Saradan dengan tipikal area hutan. Sangat sulit mencari orang pada masa panen atau pun masa tanam,” imbuh Waskita. (rani)

Bagikan Ke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *