Close


February 12, 201893 Views

Program Padat Karya, Titik Cerah Masyarakat Desa

image_pdfimage_print

Program padat karya menuai respon positif. Masyarakat miskin menjadi lebih berdaya. Mengurangi jumlah pengangguran, manfaatnya langsung terasa.

 

Pagi itu Arif memutuskan untuk tidak pergi melaut. Beberapa waktu lalu hasil tangkapannya bikin cemberut. Ini musim yang buruk bagi para nelayan.

Tapi, ia tidak putus asa. Pagi itu ia sudah siap dengan rompi jingga dan helm kuningnya. Ia pergi mengayun cangkul membersihkan jalan dan jembatan. Ia sangat bersemangat melakoni peran barunya, bekerja di program padat karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pemuda asal Prigi, Kabupaten Trenggalek ini mengikuti program padat karya selama dua Bulan. Sebelumnya Arif adalah nelayan. Ia mengaku hasil melautnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketika tidak melaut ia bekerja serabutan.

Sejak mengikuti program padat karya ini, ia mengaku terbantu lantaran upah yang ia terima sudah bisa dipastikan. Besar harapan Arif program padat karya ini tetap berjalan setiap tahun, mengingat selama ini ia tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Timbang nang omah nanggur mas, gak ono kerjoan, dijak konco-konco melu program iki. Selain iku ono penghasilan pasti mas. (Daripada dirumah menganggur mas, tidak ada pekerjaan, diajak teman-teman ikiut program ini. Selain itu ada penghasilan pasti mas),” ungkap Arif

Tak hanya Arif yang merasakan manfaat dari program padat karya ini, hal serupa juga rasakan oleh Ending Widyowati. Wanita 37 tahun ini juga adalah salah satu pekerja yang mengikuti program padat karya. Sebelumnya ibu dua anak ini bekerja serabutan. Ajakan mengikuti program padat karya ini datang dari suaminya. Dengan senang hati ia menerima pekerjaan itu demi memenuhi kebutuhan ekomomi.

Endang mengaku sangat menikmati pekerjaan ini. Jika dibandingkan saat ia bekerja menjadi pembantu, pekerjaan padat karya ini terbilang lebih ringan. Sebab ia mempunyai waktu lebih banyak untuk beristirahat, mengingat jam kerja program ini hanya 7 jam. Selain itu, Endang juga merasa terbantu karena alat-alat kelengkapan kerja, seperti cangkul, helm, rompi dan sepatu bot, telah disiapkan oleh PPK terkait.

Endang mengaku progam ini telah banyak membantunya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Endang berharap program ini diadakan setiap tahun. “Saya meminta agar saya dan suami tetap bisa bekerja, pak. Karena kami menerima penghasilan yang pasti,” pungkasnya.

 

Program Prioritas Pemerintah

Mulai Januari 2018, pemerintah menetapkan pola baru pemanfaatan dana desa se-Indonesia. Alokasi dana desa bakal difokuskan ke sektor padat karya. Demikian keputusan yang diambil oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (3/11/2017).

“Saya meminta program pemanfaatan dana desa dan program kementerian yang dikucurkan ke desa dilakukan dengan modal padat karya. Model cash for work,” ujar Presiden.

Selain itu, Presiden Joko Widodo juga meminta supaya dana desa dikelola dengan cara swakelola. Hal tersebut semata-mata demi pembukaan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan serta daya beli masyarakat.

Salah satu contoh penerapan program padat karya adalah di proyek infrastruktur. Proyek itu akan dikerjakan secara swakelola. Pekerja proyek diserap dari warga setempat. Dengan demikian, dana desa tidak hanya digunakan untuk membeli bahan material infrastruktur saja, melainkan juga untuk membayar honor pekerja.

“(Pola) ini akan difokuskan kepada (desa yang ada di) 100 kabupaten dan dilakukan bersama-sama dengan (program) kementerian/lembaga,” kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, usai rapat.

Selain infrastruktur, sektor padat karya lain yang disasar pola baru dana desa yakni pemberian makanan tambahan dan pelayanan bagi masyarakat. “Jadi, padat karya ini bukan hanya melingkupi infrastruktur/sarana prasarana saja. Tapi juga masuk ke pelayanan masyarakat,” ujar Puan.

 

Menyerap Tenaga Kerja

Menyambut hal itu, Kementerian PUPR pun memulai program padat karya tunai yang melibatkan masyrakat. Program ini bertujuan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, sehingga mengurangi angka pengangguran.

Jenis kegiatan yang dilaksanakan program padat karya tunai adalah pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan khusus, seperti pemotongan rumput pada bahu jalan rumija, pembersihan saluran (drainase), pengecetan kerb atau median, pembersihan jembatan dan pengecatan sederhana pada jembatan.

Program padat karya ini membidik masyarakat dengan kategori tidak mempunyai pekerjaan, tidak mempunyai pekerjaan tetap dan kategori miskin. Melalui program ini, masyarakat diharapkan mendapat penghasilan tetap setiap bulan.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Sodeli saat di temui di kantor Balai Besar Pengelolaan Jalan Nasional VIII (BBPJN VIII) mengatakan program padat karya ini diharapkan dapat membantu ekonomi masyarakat desa setempat. Contohnya seperti yang ada di wilayah PPK Popoh-Prigi-Panggul yang murni menggunakan dana swakelola bukan menggunakan dana transisi.

Sodeli menjelaskan, program padat karya di wilayah PPK popoh-prigi-panggul sudah menyerap tenaga kerja sebanyak 189 orang. Perekrutan tenaga kerja padat karya dikoordinasikan dengan perangkat desa setempat sesuai dengan kategori yang sudah ditentukan. Proses pengawasan di lapangan akan diawasi oleh mandor dan penilik jalan.

PPK Popoh-Prigi-Panggul Nana Sujanah menjelaskan, program padat karya di wilayahnya terbagi menjadi dua segmen, yaitu Durenan-Prigi dan Panggul-Munjungan-Prigi. Wilayah ini sukses menyerap tenaga kerja sebanyak 150 orang yang tersebar di 9 titik lokasi.

Upah yang diterima setiap pekerja program padat karya disesuaikan dengan UMK daerah masing-masing. Di wilayah PPK Popoh-Prigi-Panggul setiap pekerja menerima upah setiap bulannya sebesar Rp 1.670.000. Upah itu dibayarkan bertahap setiap akhir minggu. Dalam sehari, peserta program padat karya bekerja selama 7 jam. Pekerjaan ini mereka lakukan enam hari dalam seminggu.

Nana mengungkapkan bahwa program padat karya telah menuai respon positif, baik dari masyarakat maupun para pekerja yang terlibat. Ia mengatakan, masyarakat sekitar sering berperan aktif dalam program ini, meski sekadar memberi makanan dan air minum kepada para pekerja.

Melihat dampak positif ini, pria kelahiran Jawa Barat itu berharap program padat karya dapat dilanjutkan. “Dengan program padat karya ini, pemerintah dapat membantu masyarakat yang membutuhkan pekerjaan. Mudah-mudahan program ini ke depan berjalan lebih baik lagi.” Kata Nana. Secara tidak langsung, imbuh Nana, program ini sekaligus mengedukasi dan membangkitkan kesadaran masyarakat sekitar untuk bersama-sama merawat jalan raya. (wira)

Bagikan Ke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *