Close


October 18, 2017349 Views

BBPJN VIII Bangun 3 Jembatan Gantung

image_pdfimage_print

Foto : BBPJN VIII Bangun 3 Jembatan Gantung di wilayah Kabupaten Trenggalek

Trenggalek – Kondisi geologis wilayah Kabupaten Trenggalek dengan gunung, lembah, dan sungai yg secara fisik memisahkan lokasi tempat tinggal penduduk dengan sekolah, pasar, serta pemukiman lain, secara alami memerlukan jembatan penyebarangan. Kebutuhan dasar ini sangat dinanti pada daerah yang terpencil dan belum tersentuh pembangunan.

Program pembangunan jembatan gantung merupakan bagian dari program Nawa Cita Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan. Adanya jembatan tersebut akan mempermudah dan memperpendek akses warga masyarakat perdesaan menuju sekolah, pasar, tempat kerja, mengurus administrasi ke kantor kelurahan atau kecamatan dan akses silaturahmi antar warga.

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII melalui PPK Bts. Kab. Pacitan – Jarakan – Trenggalek – Ponorogo – Dengok – Bts. Ponorogo membangun 3 (tiga) Jembatan Gantung yaitu Jembatan Gantung Parakan, Jembatan Gantung Sumberrejo dan Jembatan Gantung Welahan. Jembatan tersebut diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaran roda dua.

Jembatan Gantung Parakan menghubungkan Desa Parakan RT 15 RW 03 Dusun Ngreco menuju Desa Marakan dan Desa Suko Sari Kabupaten Trenggalek. Jembatan ini memiliki panjang 32 meter dan lebar 2,5 meter dibangun dengan biaya 1,22 milyar bersumber dari APBN. Sebelumnya sudah ada jembatan kayu namun kondisinya sangat memprihatinkan, dari sini konstruksi tidak aman, untuk itu dibuatkan jembatan baru dengan konstruksi rangka baja.

Jembatan Gantung Welahan dibangun di Kabupaten Tulungagung menghubungkan Desa Welahan dengan Desa Welahan. Jembatan tersebut memiliki lebar 2,5 meter dengan panjang 90 meter, dibangun menggunakan dana APBN dengan biaya 1,21 Milyar. Sebelumnya sudah ada jembatan, namun jembatan tersebut patah akibat banjir sehingga harus dibangun ulang.

Sementara Jembatan Gantung Margomulyo memiliki lebar 2,5 meter dan panjang 70 meter, menghubungkan Desa Sumbermulyo dengan Desa Sumbermulyo dibangun dengan dana APBN dengan biaya 1 Milyar.

PPK Bts. Kab. Pacitan – Jarakan – Trenggalek – Ponorogo – Dengok – Bts. Ponorogo, Ramlan ditemui Humas di Kantor BBPJN VIII menjelaskan 3 (tiga) jembatan gantung tersebut mulai di bangun bulan Maret selesai Agustus 2017. “Jembatan sudah selesai dibangun progress 100 % dan sudah digunakan oleh masyarakat”, kata Ramlan.

Ramlan mengungkapkan jembatan yang sudah dibangun asetnya akan diserahkan ke Kabupaten Trenggalek dan Tulung Agung, “ Kita akan serahkan di Desember Minggu ke 4, nantinya pemeliharaan akan dilimpahkan ke Kabupaten Trenggalek dan Tulung Agung,” imbuh Ramlan.

Sesuai dengan Undang-undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan, pada dasarnya kewenangan dan tanggung jawab pembangunan jembatan gantung pejalan kaki berada pada Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten/Kota. Untuk itu, Menteri PUPR telah menyampaikan surat kepada para Gubernur, Bupati, dan Walikota tertanggal 21 Desember 2015 perihal Jembatan Gantung untuk Pejalan Kaki yang isinya antara lain agar Pemerintah Daerah mengutamakan penggunaan anggaran daerah, diantaranya melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk perbaikan dan pemeliharaan jembatan gantung, sementara Kementerian PUPR akan memberikan pedampingan dan dukungan teknis yang dibutuhkan Pemerintah Daerah.

Program pembangunan jembatan gantung oleh pemerintah pusat dimaksudkan untuk membantu pemerintah daerah mengatasi pembangunan antar desa yang tidak merata, kesenjangan sosial dan kesejahteraan serta pengembangan wilayah tertinggal, dimana akses transportasi antar desa belum terhubung dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan fasilitas lainnya, serta untuk keperluan mitigasi atau evakuasi bencana.

Sementara untuk kriteria lokasi jembatan gantung, meliputi jembatan untuk pejalan kaki yang kondisinya kritis atau bahkan runtuh. Lalu jembatan tersebut digunakan oleh pelajar sekolah dan ekonomi warga antar desa dan menghubungkan minimal dua desa. Kemudian akses memutar bila tidak ada jembatan gantung cukup jauh minimal 5 kilometer, dan kondisi jalan akses memungkinkan untuk dapat memobilisasi rangka jembatan gantung.

Bagikan Ke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *